Dungu
Dikala semua hal telah menemukan titik tengahnya, saat beberapa merasa paling benar, ataupun mengaku bersalah, akhirnya akan ada satu persimpangan yang menyatukan keduanya. Aku menengok ke belakang dan menyadari, Oh, semua perkataan yang keluar karena emosi sesaat itu kini membekas. Kini memberi luka yang tak bisa terurai begitu saja. Rumit jika harus kuurutkan satu per satu benang yang terlanjur kusut ini. Dimulai dari kesalahpahaman yang tak kunjung usai, berkurangnya komunikasi dan silaturahmi. Kacau, tiada obat penawarnya selain saling bicara. Namun kita sama-sama enggan memulainya. Teruntuk kamu, yang pernah dekat namun sekarang hitam pekat dalam ingatanku begitupun ingatanmu. Aku disini, meminta maaf atas segala resah, gundah, yang pernah membara diantara kita dan membiarkannya terjadi begitu saja. Bahkan berlarut hingga mati rasa. Terkadang kukira inikah takdir, ataukah nasib, keduanya bisa diubah atau disangkal dengan doa, bukan? Tetapi...