Dungu
Dikala semua hal telah menemukan titik tengahnya, saat beberapa merasa paling benar, ataupun mengaku bersalah,
akhirnya akan ada satu persimpangan yang menyatukan keduanya. Aku menengok ke
belakang dan menyadari, Oh, semua perkataan yang keluar karena emosi sesaat itu
kini membekas. Kini memberi luka yang tak bisa terurai begitu saja.
Rumit jika harus kuurutkan satu per satu benang yang
terlanjur kusut ini. Dimulai dari kesalahpahaman yang tak kunjung usai,
berkurangnya komunikasi dan silaturahmi. Kacau, tiada obat penawarnya selain
saling bicara. Namun kita sama-sama enggan memulainya.
Teruntuk kamu, yang pernah dekat namun sekarang hitam pekat
dalam ingatanku begitupun ingatanmu. Aku disini, meminta maaf atas segala
resah, gundah, yang pernah membara
diantara kita dan membiarkannya terjadi begitu saja. Bahkan berlarut hingga
mati rasa.
Terkadang kukira inikah takdir, ataukah nasib, keduanya bisa
diubah atau disangkal dengan doa, bukan? Tetapi, karena memang sudah tabiatnya
manusia itu datang dan pergi sesuai porsi. Bila kuingat kembali mengapa dulu
aku begitu gegabah memikirkan hal hal yang datangnya hanya dari mulut manusia
yang bahkan tidak bisa digenggam setiap katanya. Sekerdil itu dulu diriku.
Menjijikkan. Bukan? Tapi, apapun itu harus dipeluk dan digenggap erat, mereka
adalah bagian dari diriku saat ini. Aku
bukan pengendali sabar atau amarah yang baik, tapi aku bersyukur masih sangguo
mengakui dan tidak menyangkal kenyataan itu.
Teruntuk kamu,
dengarlah, dulu aku, Dungu, yang tidak mengaku.
Aku pula pernah merasa menyakiti seseorang dengan mengatakan
satu rahasia yang dia bahkan takut
mengakui hal itu selama ini, yang akan terus menghantu-hantuinya hingga akhir
hidupnya, untuk menutupi kehidupan baru yang ingin dibentuk dan dimulainya,
segalanya, hilang tujuannya, kepribadiannya, keberadaannya, karena takut akan
kesalahan masa lalu yang dibawanya dan diketahui banyak orang, karenaku.
Bahkan sesungguhnya,
setiap orang berhak memulai masa depan dengan tidak menyangkut pautkan kelamnya
yang lalu. Percayalah aku Dungu, yang masih tetap enggan mengaku.
Lalu,
Kerumunan perempuan hebat dalam satu tempat tinggal puluhan
minggu lalu kini tercerai berai, sujud syukur raganya, bukan jiwanya. Mereka
banyak menyimpan pesan dan kesan. Tawanya, segala cerita dan derita, mulai dari
penyakit yang dipunya salah satu diantara kita, membuatnya harus pingsan berkali-kali, membuat
kita semua panik dan khawatir tiada henti. Juga seorang wanita yang sangat
lembut hatinya, tersakiti berpuluh kali karena apa-apa dipendam sendiri. Lagi,
si cantik yang mempunyai pacar posesif, harus memberi pengerti yang tak boleh
ada henti untuk memahami hingga memakan hati setiap malam hari, kini sudah
bahagia. Namun cerita berbeda ketika
kita sudah sama-sama memutuskan untuk lebih dalam saling mengenal,
Lagi-lagi merekapun
harus pergi, demi selesai dengan diri sendiri terlebih dahulu, sebelum saling
bertaut bersama lagi.
Masih banyak lagi, kedunguan yang kulakukan. Bahkan hingga
saat ini. Percayalah, aku bahkan masih terbayang segala angan percakapan yang
bisa kita ciptakan bila dulu, aku lebih bisa meredam amarah.
Amarah menuntunmu pada
satu keadaan yang akibatnya berlangsung lama, bahkan bisa selamanya.
Masih tersedia banyak ruang yang tuhan ciptakan. Seperti
halnya dia selalu mengirimkan orang-orang yang tepat untuk menegurku setiap
kali melakukan kesalahan, jangan salah, datangnya justru bukan dari orang-orang
terdekat.
Masih tersedia banyak jalan, jika kita memiliki niat dan
harapan untuk terus melanjutkan........
Kesimpulannya, aku
masih saja bergumam dan nostalgia dengan orang orang lama yang harusnya
diikhlaskan saja, karena jika waktu sudah bersabda mereka harus digantikan
posisinya, kita harus apa.
Semua sudah pada tempatnya, kalau tidak satu ruang denganmu
maka bukan masalah. Kepada semua teman, yang tugas nya memang menemaniku
mengendalikan si sabar, amarah, kecewa, bertahan sampai pada waktunya dimana
aku bisa menjadi pengendali yang baik, setidaknya cukup baik, aku tidak tahu
terimakasih macam apa yang harus kuberi.
Aku tidak akan pernah menyalahkan diri sendiri,
Walaupun itu kulakukan setiap hari,
Biarkan semua mengalir,
Semoga kamu dan kita semua tidak akan pernah lelah saling mengenal dan memahami.
Jangan tenggelam dengan yang kelam, seperti aku
Love,
Rahde's

Komentar
Posting Komentar