Jingga Part II
Percakapan kita harus ditunda diujung malam ini, seperti biasa kamu memberikan satu helm untukku dan kita akan sama- sama bersiap menghadapi angin di malam hari dengan sisa celotehan-celotehan tidak penting sepanjang perjalanan seperti biasanya. Sampai didepan rumah, “ Capek ih, rumah kamu jauh banget” katamu sambil merapikan rambut didepan spion setelah melepas helm, padahal ini sudah kesekian kalinya kau mengantarku, tetapi itu kuanggap candaan biasa yang tak akan berubah nada. “Aku kan ga maksa dianterin, lagian jadi bikin salah sangka terus sama cewe-cewe yang suka sama kamu kan” kataku seraya berjalan mengetuk pintu. Wajar, dia adalah seorang lelaki, tepatnya kaka senior dua tahun diatasku, dengan jurusan sangat berbeda, dia anak mesin, aku anak bahasa, perawakannya tinggi, rambut berponi menyamping kekiri, celana jeans dengan warna cream yang sama kesukannya, dan kaus polos putih atau hitam menjadi langganannya. Tebak saja aku dihujat berapa wanita cantik karenanya. ...