Jingga Part II
Percakapan kita harus ditunda diujung malam ini, seperti biasa kamu
memberikan satu helm untukku dan kita akan sama- sama bersiap menghadapi angin
di malam hari dengan sisa celotehan-celotehan tidak penting sepanjang
perjalanan seperti biasanya.
Sampai didepan rumah, “ Capek ih, rumah kamu jauh banget” katamu sambil
merapikan rambut didepan spion setelah melepas helm, padahal ini sudah kesekian
kalinya kau mengantarku, tetapi itu kuanggap candaan biasa yang tak akan
berubah nada. “Aku kan ga maksa dianterin, lagian jadi bikin salah sangka terus
sama cewe-cewe yang suka sama kamu kan” kataku seraya berjalan mengetuk pintu.
Wajar, dia adalah seorang lelaki, tepatnya kaka senior dua tahun
diatasku, dengan jurusan sangat berbeda,
dia anak mesin, aku anak bahasa, perawakannya tinggi, rambut berponi menyamping
kekiri, celana jeans dengan warna cream yang sama kesukannya, dan kaus polos
putih atau hitam menjadi langganannya. Tebak saja aku dihujat berapa wanita
cantik karenanya.
“ Cie yang udah biasa dikatain cewe-cewe “ Katamu sambil melepas
sepatu. Aku memantau di ruang tamu dan duduk manis di sofa membunuh lelah,
enggan mengambil segelas air untuk melepas dahaga karena bicara tak
henti-hentinya selama satu setengah jam lamanya “ Yaudah masuk dulu, eh atau besok-besok
anter akunya pake kereta aja” sahutku, kamu membalasnya dengan menggeleng,
memutar kedua bola mata. “ Gabisa jadi masinis juga “. Gantian aku yang memutar
bola mata, beranjak ke dapur, kamu yang mengambil posisi duduk di sofa,
mengecek telefon genggammu yang tidak pernah berhenti berbunyi. “ Emang masih
suka dibully cewek – cewek ? “ katamu sambil menerima segelas air
dariku. Ini bahasanya yang seolah-olah dia idola para wanita atau bagaimana. “
Begitulah, biasa “ jawabku. “Sukurin” katamu sambil mengacak rambutku.
Kau sebenarnya tahu bahwa ada cantik diluar sana yang aku tidak pernah
mengenalnya, belum pernah bertegur sapa denganku sebelumnya tapi aku tahu
namanya dan dia tahu aku. Cantik, dia memang pantas membenciku. Tidak pernah
ada niat dari dalam diriku untuk merebut yang kau sebut dan akui lelakimu. Tidak ada yang bisa aku
jelaskan dari apa yang aku lakukan karena semuanya salah dari itu. Mungkin aku
dibisiki setan, mungkin setannya itu aku. Cantik, aku ingin bilang semoga nanti
kau lupa dengan masalah ini segera. Kuharap kau berhenti mencibirku, tapi tak
apa cantik, jika itu yang membuatmu merasa lebih baik, aku pantas mendapatkan
itu. Ya, atas perbuatanku, aku meminta maaf, tidak ada yang indah dari
menyakiti hati perempuan lain.
Sejak sekitar dua bulan yang lalu memang aku yang salah dari itu.
Berawal dari bertukar kabar di sosial media, lalu bermetamorfosa menjadi bertanya tentang
hal-hal yang sebenarnya aku dan dia saling tidak butuh untuk tahu. Lalu menjadi
biasa, bahkan tidak biasa jika dia tidak memberi kabar kepadaku. Aneh.
Kau jadi tahu bahwa aslinya aku banyak mau, mulai dari aku minta
ditemani ke pameran seni, ke tempat bermainmu setiap hari, ke taman pinggir
kota, pasar malam dan segala jajanannya, untuk semua itu sayangnya kau turuti,
entah ini kau hitung sebagai kebaikan atau memang sama-sama menginginkan.
Malam semakin siap untuk beranjak pergi bersama bulannya dan matahari
akan menyambut bersama paginya dan
kita juga harus siap untuk kembali
melakukan rutinitas, aku dengan kegiatanku, kamu dengan sibukmu.
“ Yaudah aku pulang, sampai ketemu besok di kantin “ katamu sambil
berjalan menuju pintu, “ Gausah pamit kan udah tidur semua “ aku mengangguk
sambil menahan kantukku yang sudah tidak bisa kutahan lagi, besok ada kuliah di
pagi hari. “ Hati- hati, kabari kalau sudah sampai rumah ya “.
Komentar
Posting Komentar