jingga part I
Cerita 17/05/18
Sore itu, di pinggir danau tengah kota aku melihat cahaya jingga tepat diatas kepalamu. Itukah yang kudambakan selama ini atau si jingga barangkali memang sengaja telah lama sembunyi dibalikmu dan itu adalah salah satu alasan mengapa aku selalu tidak bisa jauh-jauh darimu. Inikah loyalitas atau barangkali mata dan fikiranku tertutupi sesuatu. Sial memang.
Aku berharap jingga berpesan melalui angin yang membelaiku sore itu, bahwa bukan saatnya Dea, untuk mengenal bab pelajaran mengenai loyalitas. Tetapi sayangnya dia tidak berpesan begitu, justru tenangnya air danau yang berpesan bahwa “ Kenalilah banyak lelaki, karena kamu akan tahu bahwa dia tidak hanya menyukai satu dari kaummu, banyak. Tetapi yang ia beratkan hanya satu “. Aku yang tidak menggubris atau alga hijau dan batu kerikil didalam danau mengejekku “ Wanita sepertimu mana mampu mengenal lelaki, dirimu sendiri saja tidak kau kenali”.
Aku berharap besok dunia berakhir, sehingga aku tidak akan lebih lama menumpuk penyesalan dan banyak pikiran aneh sejak mengenalmu. Harapan untuk tidak melakukan kesalahan yang sama setiap kali bersamamu selalu saja gagal. Aku yang selalu jatuh cinta saat melihatmu mamakai kaus putih polos dan membiarkan rambutmu berantakan. Ini kesalahan. Aku yang juga selalu jatuh cinta setiap kali kau katakan lelucon yang tentu saja pasti tidak lucu bagi orang lain yang mendengarnya, tetapi akulah yang akan tertawa sekencang dan selama mungkin karena memang, ini kesalahan.
Aku menikmati setiap percakapan sedangkan kau yang bisanya hanya mengiyakan dan melakukan penolakan jika dibutuhkan. Kau rajanya membuat jebakan yang tak henti-hentinya membuatku terperangkap didalamnya. Mungkin benar matahari tenggelam saja sore itu karena aku sudah tidak sanggup melihat senyum yang kudamba melulu dan meradang menjadi milikmu.
Jika matahari tenggelam itu tandanya bulan akan menyapa, pertemuan kita menuju sudahnya, dan aku benci karena dia akan membuat kesepakatan yang sama setiap malamnya. Aku yang merindukan dan dia yang akan menyampaikan. Curang, tetapi begitulah cara alam semesta bekerja. Tidak adil rasanya bagi yang belum cukup belajar mengenai bab penerimaan.
Karena aku akan merasa adil jika bukan bulan yang menyampaikan rinduku, tetapi saat dimana kita menghabiskan segala kata yang kita punya berdua; bercengkrama dan berharap rintik hujan ikut hanyut bersamanya. Menambah durasi untuk tidak saling mengakhiri.
Komentar
Posting Komentar