Keluh Kesah Karyawan yang Merasa Otodidak Marketing B2B di Kantor

Keluh Kesah Karyawan yang Merasa Otodidak Marketing B2B di Kantor 




Bekerja sebagai marketing untuk Saya yang kuliah dengan jurusan Penerjemahan Bahasa Inggris saja sudah sangat aneh. Namun, memang dasarnya anak ini suka sekali berkecimpung di dunia organisasi, jualan online (dimana belajar banyak dan mempraktikkan Digital Marketing) juga, ikut komunitas dan masih sering mengikuti kegiatan di luar kampus.

Pengasahan skill berkomunikasi dan sosial sudah sering dipupuk memang saat kuliah, walaupun beda jauh dengan marketing itu sendiri. Awalnya yakin sekali bisa mengambil posisi ini karena calon bos Saya yang terus menerus meyakinkan kalau Saya itu punya potensi di dunia ini. Kata beliau “kalau udah bisa public speaking dan ilmu psikologi dengan baik, bahkan tai kucing juga bisa dijual mahal”. Berawal dari kalimat itu Saya percaya diri banget untuk bisa kerja di kantor Saya yang sekarang ini. 


Dua tahun lalu belum paham betul apa perbedaan B2B dan B2C. Singkatnya begini, B2B itu singkatan dari Business to Business, biasanya mereka yang berkecimpung di bidang ini menawarkan barang atau jasa yang sifatnya menjual atau menawarkan barang dan jasa dalam jumlah yang besar atau tidak massal. Contoh kantornya misalkan Digital Agency, atau supplier bahan baku, perusahaan yang menjual peralatan rumah tangga, IT, aplikasi, audio-video dan lain lain.

Kalau B2C adalah singkatan dari Business To Customer, dimana biasanya berhadapan langsung dengan para pelanggan atau pengguna jasa. Contoh umum, Gojek, Grab, Indomie, atau semacamnya yang bersentuhan langsung dengan para pengguna atau pembelinya.


Meskipun tidak memungkiri perusahaan B2C juga bisa melakukan kemitraan dengan antar business lainnya. 


Nah, kantorku ini termasuk kantor yang B2B karena produk atau jasa yang ditawarkan langsung ke Pemerintahan, Swasta, atau para bidang bisnis secara langsung bukan menawarkan ke customer. Tantangannya adalah sebagai bisnis antar bisnis harus punya modal yang sangat besar atau minimal investor sebelum bisa menjalankan projek ya kan?

Nah, sayangnya kantorku ini masih kurang dalam pendanaan atau modal ketika ingin mencari atau bahkan mendanai sebuah projek. Aku, sebagai salah satu team marketing barunya. Diperkenalkan pelan-pelan bagaimana cara mencari dan menjalankan projek di kantor ini dari hulu ke hilir.


FASE EXCITED 


Setengah tahun pertama rasanya luar biasa karena dahaga akan hal-hal baru terbayarkan. Lembur walau ga ada uang lembur gapapa. Kerja di malam tahun baru karena mengerjakan laporan projek, gapapa. Meeting ke sana-sini bisa makan minum enak dari uang kantor, sangat suka. 


Setengah tahun kemudian, projek yang diharapkan tak kunjung datang. Ada saja hambatannya, entah pandemi. Atau kecolongan oleh vendor lain. Atau memang sudah diusahakan sana-sini ada saja yang bukan rejeki.


Sampai Saya memberanikan diri ga hanya jadi tukang mencatat dan mengamati, pertama kali presentasi konsep ke client karena itu ada sebuah link kerjaan dari teman Saya yang biasa mengerjakan projek di Kementerian Pariwisata. Akhirnya ada satu projek tembus yang berlangsung waktu itu selama 3 hari karena berkaitan dengan sebuah event..


FASE FRUSTASI


Nyatanya, gak berhenti di situ. Tiga sampai beberapa bulan kemudian projek tidak ada yang masuk. Saya pusing, walaupun bukan tanggung jawab Saya sepenuhnya. Bingung sendiri karena tidak diberi jobdesk apapun, tidak ada ketemuan atau meeting dengan client lagi seperti enam bulan pertama. 


Tidak ada arahan apapun dari atasan Saya, yang penting Saya ada di kantor, boleh ngapain saja. Cari kesibukan sendiri, Saya yang terbiasa sudah sibuk sejak masa sekolah justru isinya hanya takut, menangis, bingung, ga ngapa-ngapain, takut ga berkembang, takut makan gaji buta, dan lain sebagainya terlalui kala itu


FASE INISIATIF


Akhirnya menuju ujung satu setengah tahun Saya bekerja, memberanikan diri untuk membuat rangkaian email ke perusahaan yang dituju sebanyak 100 alamat email yang Saya dapatkan melalui penelusuran sosial media atau web mereka.

Saya memberanikan diri untuk mengunjungi satu per satu calon client walaupun seringkali Saya diusir satpam. 


Tidak hanya pengalaman diusir satpam, biasanya Saya sudah melakukan presentasi, sering berhubungan tiba-tiba Saya dicuekin atau sudah janjian bertemu nyatanya malah dibohongi atau diberi harapan palsu aja. 


Hanya 50 % saja yang membalas email Saya, setengahnya menolak, setengahnya lagi menerima Saya untuk melakukan presentasi. Keadaan masih pandemi, Saya mengajukan untuk berlangganan zoom. Lalu, dari sana ada sekitar 10 perusahaan yang bisa Saya kunjungi untuk membicarakan tingkat lanjut


Setelah sudah deal dan Saya mengajukan penawaran harga perihal projek, hanya 2 perusahaan dari 100 yang Saya email sudah menerima kerjasama dengan kami.



MENARIK KESIMPULAN


Bahwasanya setiap kantor punya kelemahan dan kelebihannya. Bagi Saya, yang tidak memiliki job desk secara sistematik. Sebelum menentukan apa yang harus Saya kerjakan saat datang ke kantor, Saya harus mencari jalannya sendirian, memecahkan permasalahan di perjalanannya sendirian. 


Lebih memberatkan lagi kalau Saya tahu betul permasalahan yang ada di kantor ini dari hulu ke hilir. Setiap ingin mengambil tindakan, biasanya Saya akan berpikir keras perihal dana yang Saya gunakan untuk modal marketing apakah mampu Saya mendapatkan projek yang bisa mengembalikan modal yang Saya gunakan itu?


Tidak hanya berhenti di situ, ketika Saya sudah berhasil mendapatkan projek. Saya akan membantu menjadi penghubung antara client dan tim produksi di kantor selama berjalannya projek hingga selesai. Saya pula yang mengkoordinir perihal konten, atau jika ada error, istilahnya aftersales dan executive account-nya juga Saya. 


Ada satu jobdesk PASTI Saya di kantor ini, mengelola sosial medianya. Memikirkan konten, membuat dan mengunduhnya ke laman instagram kantor B2B ini. 


Tapi, dari semua hal di atas Saya dapat pengalaman yang sangat banyak. Berhubungan langsung dengan kementerian-kementerian, mengetahui alur-alur penting saat ingin menjalankan kerjasama dengan pemerintahan.


Mulai dari berkas penawaran, berkas yang dibutuhkan saat ingin menjalankan projek, sampai menjadi account berjalanya projek hingga selesai. Semua ini pasti tidak sia-sia. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TRIP JOGJAKARTA DUA HARI

Hujan dan Mendung di Akhir Tahun ini