Hujan dan Mendung di Akhir Tahun ini




Dari Abu Said Al-Khudri dan dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya” (HR. Al-Bukhari no. 5642 dan Muslim no. 2573.


Tulisan ini gaakan memiliki arah yang jelas. Sudah lama sekali rasanya tidak menulis dengan baik dan rapih. Akan tetapi menjadi pengingat Saya sendiri untuk jadi pribadi yang lebih baik, aaamiin.

Seperti obat mujarab yang diandalkan begitu banyak manusia yang bernasib sama dengan Saya, yaitu waktu. Katanya, waktu bisa menyembuhkan luka.

Rasa sakit bertubi-tubi itu terkadang membuat Saya bingung sendiri, apakah itu memang benar Saya disakiti atau memang hanya "merasa" tersakiti.

Oktober yang cukup menyedihkan buat Saya. Ada sebuah momen yang mampu membuat Saya yang ketika mengingatnya saja sudah takut, bingung, tercekat, merasa gak bisa menyatakan apa yang sebenarnya ada dalam benak sendiri. Membuat Saya selalu kikuk saat mengingatnya.

November ini dipenuhi dengan kelelahan yang luar biasa tak henti. Begitu banyak hal yang mereka tidak mau mengerti kami, tapi terus mau ikut andil tanpa membantu.

Alhamdulillah

Beberapa hari di akhir Desember ini Saya cukup mendapat pencerahan yang luar biasa ajaibnya. 

Bahwasanya yang selama ini Saya kira menyakitkan dan jahat, justru itu sudut pandang Saya kepada orang lain.

Sudut pandang untuk evaluasi ke diri sendirinya kurang. Ternyata, kalau lagi disalahin orang lain, atau dipojokin oleh orang lain, atau dianggap dosa lah ya oleh orang lain. Hal pertama yang harus kita lakukan adalah bukan marah. Jika marah, itu bukti kita lalai dengan mengingat Allah swt. Kalau kita ingat segala sesuatu adalah kehendakNya, yang terjadi juga takdir dariNya. 

Langkah pertama Saya harusnya bukan marah dan stress, akan tetapi menyerahkan semua pandangan-pandangan perasaan itu ke Allah swt semata.

Sang pemberi ujian dan yang membuat ujian kan Allah swt ya? jadi yang punya solusi bagaimana terurainya masalah itu ya Allah swt sendiri. 

Kita gaakan ditanya dengan cara apa kita menyelesaikan masalah-masalah kita. Tapi, yang akan ditanya adalah bagaimana ibadah kewajiban kita? bagaimana solat dan perbuatan amal soleh kita? yaampun ini Saya dapet dari mendengar kajian yaa, jadi seperti ceramah.

Jadi ilmu dalam menanggapi setiap masalah adalah gausah ikut-ikutan mikirin urusan Sang Maha Baik. Tenang aja, gausah kepikiran akan dibenci selamanya, karena ada Sang pembolak-balik hati. Gausah kepikiran akan kaya selamanya atau miskin selamanya karena ada Sang Maha Pemberi.

Gausah mikirin kapan selesai ya masalah? karena udah bukan kehendak kita lagi. Fokus aja dengan hidup kita dan kewajiban yang Allah swt perintahkan, menjauhi segala laranganNya.

Koreksi diri sendiri, karena terjadinya masalah  itu karena Allah subhanahu wa ta'ala ingin membersihkan hati kita dan mengampuni dosa-dosa kita, jadi yaaa sabar hahaha

Saya sadar betul, bahwa ketenangan dan kesabaran adalah koentji menghadapi ini.

Perbedaan sudut pandang yang sangat jauh membuat kita manusia berlarut-larut dalam ego masing-masing.

-

Dalam konteks ini di tahun yang luar biasa ini, Saya belajar banyak tentang penerimaan. Menerima takdir Allah swt yang mempertemukan Saya dengan keluarga baru yang cukup baik, namun adaptasi budaya dan tutur tindakan yang berbeda jauh membuat adanya batin masing-masing tercekat.

Syukur alhamdulillah nya banyak hikmah yang luar biasa di setiap masalah. Salah satunya support dari orang tua Saya yang semakin mereka tunjukkan untuk anaknya, padahal sedari dulu kita selalu selisih paham.

Saya juga belum sanggup minta maaf kepada pihak tertentu, karena masih ego merasa gak bersalah. Merasa difitnah dan menjadi omongan satu keluarga besar. Tapi, Saya masih diam saja sembari berdoa supaya kita saling dilembutkan hatinya. Bisa sembuh dengan cara masing-masing.  Itu aja tahapannya saat ini, menunggu sembuh dengan mendekatkan diri kepada Sang Pembolak-balik hati.

Anyway...

Terkadang Saya memang membagikan hal yang sangat personal di blog ini, namun, semoga bisa jadi pelajaran dan gambaran juga bahwa kita semua ga sempurna. Bahwa, dunia adalah tempatnya ujian dan masalah,

jadi, bismillah...

Hanya bisa berdoa terus semoga kita dilindungi dari orang yang ingin mendzalimi kita dan dari mendzalimi orang lain,


Allah subhanahu wa ta'ala MAHA ADIL, kalau kata suamiku begini..

"Semoga kamu sabar dalam menghadapi keegoisan, ketidak adilan orang lain ke kamu berdoa aja aduin ke Allah swt dan yakin bahwa Allah swt Maha Adil yaa"


Dea, 08 Des 2022


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keluh Kesah Karyawan yang Merasa Otodidak Marketing B2B di Kantor

TRIP JOGJAKARTA DUA HARI