Menuju Seperempat Abad Umurku
Pintu di rumah ini, kini amat sangat panjang, dan melebar, dengan warnanya yang hitam kecoklatan, begitu juga senada dengan beberapa jendela yang ada di -sampingnya.
Juga bermacam tanaman berjejer memenuhi halaman yang tak begitu luas, mungkin sekitar lima kali satu meter saja. Apalagi di depan rumah ada tembok dari rumah tetangga, sehingga, halaman rumah ini terhitung sempit, namun selalu asri rasanya. Jikalau hujan, ia jadi sangat sendu dan intim sekali. Jikalau panas, ia jadi indah karena pantulan cahaya matahari yang kurang maksimal terhalang tembok rumah tetangga.
Sudah lebih dari Tujuh hari rasanya tanganku bergerak di depan perangkat lunak ini, di area sofa ruang tamu, memperhatikan sekitar dengan seksama, bersyukur. Ada kain corak motif Indonesia Timur yang sengaja kubeli sesaat setelah menerima uang gaji, mempercantik ketika memandangnya. Membuatku lagi-lagi tercekat sejenak, rasa syukur. Indah sekali.
Tak hanya itu, alasanku memiliki waktu untuk mengerjakan segala prakara kantor dari rumah adalah karena sedang mengandung janin di usia 8 bulan. Begitulah hati nurani atasan kantor, diminta untuk bekerja dari rumah hingga maternity leave selesai. Tak hanya itu, entah kenapa keberuntungan sedang memihakku habis-habisan.
Prakara uang gaji dikasih naik 10% lebih dari sebelumnya, padahal selama 90 hari ke depan setelah melahirkan, ku akan tidak bekerja tapi tetap harus digaji. Sesuai peraturan Kemenaker saat ini.
Setelah melahirkan, masih dijanjikan kenaikan dengan angka 15% lagi, untuk upah sebulan sekali. Entah kenapa sekali lagi Tuhan memberiku nasib baik berkali-kali di awal tahun bulan Januari.
Yaaa, jangan asal penyakit hati. Aku menangis meraung di awal-awal ombak hubungan yang kujalani, entah hubungan dengan diri sendiri, ataupun dengan mereka yang mau disebut berhubungan denganku.
Entah kenapa di setiap bulan September hingga Oktober menuju akhir tahun selalu saja tangisan itu pecah karena mengendap semua rasa sejak awal tahun-nya. Tapi kali ini, awal tahun sedang berpihak padaku, semoga bertahan lama.
Tak hanya itu, rasa syukur ini tumbuh walau tak sepadan dengan teman-teman yang membanggakan pencapaiannya dengan membeli asesoris alat komunikasi model terkini dengan sebutan "beli di iBox nih", Aku cukup senang dan sekaligus heran dengan mereka.
Perihal pertemanan, di umur menuju seperempat abad ini, kita sama-sama tahu, bahwa kuantitas lingkup pertemanan kita semakin mengecil. Semua semakin terasa jauh, walau kelihatannya dekat.
Kita cukup tahu betul kehidupan mereka, apa yang sedang dijalani, melalui Sosial Media di zaman ini.
Tapi, teruntuk mereka yang menyempatkan untuk bertemu, berbincang, dan melegakan tenggorokan sekaligus menambah asupan pola pikir. Mereka begitu langka.
Memperhitungkan waktu, uang, tenaga, yang tidak mau sia-sia hanya untuk temu dengan siapa yang tak begitu membawa dampak bahagia kepada diri sendiri, itulah Aku. Si sedih kalau ndak diajak main, si nolak dengan banyak alasan kalau sudah diajak.
Lagi-lagi yang kutahu, semoga segala doa selalu saling tertuang atas kebahagiaan teman-teman kita, juga senang dan bangga merasakan kebahagiaan yang mereka miliki. Bukan sebaliknya.
JEDA
Selain pertemanan, bagiku, di umur seperempat abad ini yang harus kuperhatikan adalah jeda. Ya, jeda dalam segala hal, entah itu pikiran, badan, rutinitas yang kita lakukan, seperti pekerjaan, memasak, mendengarkan lagu, semua hal, butuh jeda.
Bagiku yang terus memikirkan menu sepanjang pagi seperti, sawi putih dan tahu, kangkung tumis dan ayam goreng, telor balado dan sayuran rebus, ikan asap pari dan tahu santen, lontong sayur buatan sendiri, dan masih banyak lagi. Itu pun, acapkali dalam sebulan penuh, Aku merasa ada rasa terpaksa, sehingga mempengaruhi hasil masakannya.
Jadi, setelah setahun belakangan ini, kuizinkan diriku menjeda, tidak mengolah masakan apapun. Beli apapun yang terdekat atau tersehat. Sembari menikmati pagi dengan minum susu dan nonton drama, tidak terus selalu berkutik di dapur saja.
Ternyata, jeda itu membuatku jadi lebih segar sekali ketika esok pagi kembali ke ranah dapurku. Rasanya jadi lebih leluasa dan lega.
Kini, dapurku sudah hitam mengkilap. Ada tempat yang disebut Kitchen Set di area bawah kompor, isinya hampir 90% adalah kado pernikahan dari teman-teman. Seolah mengisyaratkan bahwa Aku diminta untuk merawat dan memakai semua peralatan masak dari kado itu. Ada mixer, seperangkat panci dan wajan, puluhan gelas mulai dari berbagai ukuran dan warna, satu set cangkir, satu set piring, ada HotPot, seperangkat blender, vacuum cleaner, dan masih banyak lagi. Memandangnya, membuatku amat sangat bersyukur sekali.
Tidak hanya itu, di dunia kerja pun, Aku juga sangat ingin memiliki jeda lebih dari dua kali dalam seminggu. Mengapa? karena motivasi untuk berangkat ke arah kantor sana luntur sudah setiap pagi kalau tak ada jeda.
Rasanya hanya ada hari - hari menunggu akhir pekan. Pusing sendiri padahal kerjaan ada dan tiada.
Tapi yaa, kalau saja ada satu hari jeda dalam seminggu selain akhir pekan. Pastinya otak ini sudah fresh dan siap untuk bertempur di meja seperti biasa. Maka itu, pekerjaan di bidang sales & marketing ini memiliki keuntungan yang luar biasa buatku. Kenapa? karena bertemu client, memastikan konsep dan problem client, mencari solusi bersama, bertemu, dan berbincang membuatku jeda atas kejenuhan di balik bilik meja kantorku yang sempit itu.
Inikah Quarter Life Crisis itu? atau hanya inikah lika-liku kehidupan yang sewajarnya dan tidak ada tuju yang pasti.
Dimanapun kita berada, masalah selalu menghantui. Salahnya, kita hanya sering berfokus pada "Kapan selesainya ya?" bukan berserah dan berusaha menjalani setiap takdir masalah dengan tenang dan mempelajari apa hikmah dari semua ini.
Nan, masalah itu jua tak akan pernah henti sampai kita jatuh di liang lahat. Begitu komitmen yang Aku iyakan kepada Rabbku dulu. Meski begitu, musibah demi musibah menguji rasa sabar yang berbeda atas rasa panas dan kernyitnya.
Berserah dan yaudahlah adalah jawaban singkat untuk mengiyakan semua.
Sekitar seminggu lalu, Aku kehilangan ponsel pribadi pemberian suami, usianya bahkan baru dua tahun pemakaian. Namun, apadaya, kita sejatinya bukan pemilik segala apa yang kita punya, semua hal ini hanya titipan. Jika sang Maha Pemberi menghendaki untuk mengambilnya, kapan saja, ya harus ikhlas jawabannya.
EVALUASI
Di umur ini, kegiatan yang paling kusukai adalah mengevaluasi, terutama perihal keuangan hahaah, harusnya evaluasi diri sendiri ya? namun apalah daya, dari cara kita mengolah dana sudah bisa terlihat kepribadian, nafsu, dan iman kita.
Yap, melihat untuk apa saja rejeki yang sudah diberikan ini kepada kita. Mengalir ke arah yang benarkah? terlalu tamak kah? atau bahkan terlalu kikir kah? biasanya, ku membuat pembukuan pengeluaran dan pemasukan setiap bulan.
Selalu berdoa atau bahkan kadang lupa, untuk Semoga Tuhan memberi kita kekuatan menggunakan rejeki dan uang yang ada selalu dalam keberkahan dan di JalanNya
Seringkali berkaca, kepada teman hidup selamanya (suamiku). Melemparkan banyak pertanyaan, apakah sudah cukup perhatian sebagai istri? Apakah ada sifat yang tak disukai tetiba muncul di pernikahan ini? Atau ada hal yang berlebihan atau kekurangan dalam menjalani rumah tangga ini? semua hal kita saling bicarakan dengan seksama dan terbuka.
Mungkin, sejatinya yang paling sulit adalah mempertahankan orisinalitas diri kita saat sedang diangkat derajatnya oleh Allah swt dengan banyak kebahagiaan. Jadi buatku, evaluasi atau muhasabah amat sangat penting sekali.
MENERIMA
Pelajaran paling besar selama kehidupan menuju seperampat abad ini adalah "mungkin cara paling ampuh menyelesaikan masalah adalah dengan menolong masalah orang lain".
Ya, tapi kuncinya harus sabar banget-banget-banget, tahu betul kan, sabar itu butuh sedih, nangis, ga terima tapi harus terima, harus pura-pura banyak senyumnya. Pada akhirnya janji Allah swt adalah benar.
Di ujung hari semuanya terbyaar lebih dari apa yang tak disangka-sangka. Allah swt angkat derajat kita, diberi kebahagiaan yang tak terkira, (walaupun begitu pula ujian yang dirasakan sebelumnya). Kuncinya harus sabar, ujian sabar ini pasti punya levelnya, setelah selesai satu dia tak akan berhenti semata-mata di situ.
Namun, menerima adalah jalan pintas yang ditempuh dengan proses terpanjang.
Yasudah, kita tak bisa mengganti pikiran orang lain dengan pikiran kita sendiri. Ada batasan apa yang bisa kita lakukan dengan apa yang tidak bisa kita lakukan.
Kalau diminta ya berikan saja, asal kadarnya tak berlebihan.
Kalau tak diperhatikan, ya bersyukur saja untungnya kita tidak diganggu.
Kalau tak dianggap yasudah alhamdulillah, yang penting masih banyak orang - orang yang mencintai kita dikirim langsung oleh Allah swt berada di sekitar kita.
Mungkin di sini dulu ya, kita bertemu lagi, lain kali.
Calon Mama
7 Februari 2023
Komentar
Posting Komentar