BIPOLAR chap II
“kenalin saya Joni bang, ada kerjaan ga?” perasaanku campur aduk karena sedang berhadapan dengan abang tukang parkir yang paling terkenal seantero desa karena tato dan badan kekarnya
Tukang parkir itu memperhatikanku dengan jeli, dari ujung rambut sampai ujung kaki layaknya aku ini daging yang sedap untuk disantap. Dia tetap tidak menjawab, berbalik badan menjauhiku dan mengambil sesuatu, dia menyodorkan secarik kertas kecil dan memasang wajah menyeringai lalu menunjuk ke arah kolong jembatan yang masih terjangkau mata dari sini, lalu dia menepuk pundakku dua kali. Didalam kertas itu ada coretan alamat, mungkin saja ini alamat si bandar narkoba itu. Tetapi bagaimana abang tukang parkir itu tahu tujuanku.
Setelah berjalan beberapa meter hingga sampai di ujung kolong jembatan, aku melihat banyak sekali anak-anak jalanan yang sering disebut punk rock jalanan sedang berkumpul dan bergurau, hatiku sedikit lega namun begitu banyak keraguan dan tanda tanya, mungkin disini aku akan menemukan keluarga baru atau justru musuh baru selain keluargaku. Saat aku berjalan menuju kerumunan mereka, seorang dari mereka yang terlihat paling gagah dan tampan menghampiriku, jantungku berdegup sedikit lebih cepat, aku tidak mungkin takut, rasa takut dalam diriku sudah lama pergi sejak tidak tinggal bersama Ibu dan Bapakku.
“Joni Alhuadri, anak yang terkenal berani membunuh siapa saja jika sudah merasa terganggu” dia menyodorkan tangan dengan gaya tengilnya, mulutnya seperti mengunyah permen karet. Aku menyambut tangannya dan mengencangkan genggamanku agar dia tahu aku tidak takut. Supaya terbukti kalimat dia sebelumnya bahwa aku ini mampu membunuh siapa saja yang menggangguku, tepatnya bukan aku, tapi si Jodi yang melakukannya, sisi lain dalam diriku yang selalu aja ada dipikiranku.
“Nama gue Taufan, gue sama kaya lo, dibuang dari keluarga sendiri, tertarik gabung?” laki-laki berbadan tegap, wajahnya putih bersih dengan gaya rambut ala anak muda jaman sekarang, rambut tebal dan poni yang dikibaskan ke kiri, paduan kaos hitam dan celana jeans membuatnya terlihat semakin keren. Kalau saja Taufan ini anak baik-baik, pasti dia sudah jadi idola gadis-gadis desa, seluruh desa memanggilnya si Bandar Narkoba, karena kebiasaanya mabuk dan menggoda setiap orang yang lewat dipinggir jalan saat malam
Aku diam,lalu menyambut jabatan tangan Taufan sambil memperhatikan satu-satu dari mereka yang beberapa memperhatikanku dengan tatapan aneh, sedangkan yang lainnya acuh dan bergurau sendiri.
“oh, mereka juga dari latar belakang yang sama kok, kita semua senasib” Taufan meraih lenganku dengan kasar dan menarikku mendekati kerumunan
Mereka bersorak ramai, semua mata kini tertuju padaku, seketika ada yang memukul wajahku keras, lenganku terlepas dari Taufan, aku membalas cepat dengan menjatuhkan kakinya dan menendang kepalanya. Melihat kejadian itu tidak sedikit dari mereka menyerangku, aku diserbu puluhan anak punk rock itu, dengan gesit aku melempar apa saja yang bisa kulempar ke wajah mereka dan berusaha menyerang satu lawan satu, kolong jembatan itu ricuh, berantakan, beberapa kendaraan berhenti untuk melihat lalu buru-buru pergi karena takut segerombolan singa sedang mengamuk. Aku bersyukur ada Jodi didalam diriku, dia paling lihai untuk melawan rasa takut dan merenggut habis rasa belah kasih, dia begitu tega menghancurkan apa dan siapa saja yang mengganggu Jodi. Dia benar-benar pahlawan yang hidup didalam ragaku. Bajuku sudah sobek-sobek dan memperlihatkan badanku yang kurus dan penuh tulang. Kericuhan itu tidak berlangsung lama karena Taufan berteriak memerintahkan untuk menghentikan pertikaian konyol ini, beberapa puluh dari mereka tumbang dan sedikit berdarah-darah karenaku.
“Beri tepuk tangan untuk Joni si Gila ini datang menjadi keluarga baru kita” Taufan bertepuk tangan diikuti yang lainnya dan bersorak
“Joni si Gila!” teriakannya menggema di langit-langit kolong jembatan
“Selamat datang di Keluarga anak Rasta!”
Aku ikut bertepuk tangan dengan sisa-sisa tenagaku, tersenyum getir dan menyimpan banyak tanya yang takbisa kuungkapkan. Mereka langsung menyodorkan tangannya kepadaku satu per satu dan memperkenalkan diri. Aku tetap diam tanpa menyebutkan nama sambil menerima genggaman tangan mereka dengan erat menandakan aku menerima keluarga baru ini. Hatiku sedikit lega sekali lagi, setidaknya aku tidak benar-benar sendirian di dunia ini.
“Gue tau lo haus kan? Ikut gue, sekalian gue kasi tau basecamp kita “ aku mengikuti langkahnya, kerumunan juga mulai memisahkan dirinya masing-masing menyebar ke berbagai arah, beberapa lari menuju kerumunan tukang ojek, sebagian tetap di kolong untuk meneruskan bercengkrama dengan sisa-sisa kericuhan yang kami buat tadi, sisanya naik kedalam angkot dengan okulele mereka lalu menyanyi, itu pekerjaan mereka. Dalam hatiku menggerutu, bagaimana bisa aku mengamen? Jangankan nyanyi, untuk bicara saja aku malas.
Sampai disebuah rumah yang memiliki halaman cukup besar, dengan pintu yang terbuka memperlihatkan rumah itu memiliki ruang yang sangat luas dan hanya berisi kasur-kasur yang ditumpuk disetiap sudutnya. Kita disambut dengan ibu-ibu berdaster yang sedang merokok didepan rumah sambil tersenyum kecut kearahku. “Mi, ada anak baru” Taufan melangkah kedalam melewati ibu-ibu itu dan masuk kedalam rumah. Aku mematung dihalaman rumah enggan melepas sendalku untuk menapaki rumah itu. “Kenapa diam saja Joni, aku mengenalmu dengan baik, Om mu itu selalu memaki-maki Taufan agar tidak mempengaruhimu menjadi seperti Taufan, Si Bandar. Masuklah ”
Sebelum merayu Jodi yang sedari tadi menggerutu untuk pergi saja dari sini, aku memantapkan niat untuk masuk kedalam. Lagipula aku harus kemana lagi. Taufan keluar dengan membawa segelas air dan menyerahkannya padaku, aku meraihnya sambil mengangguk dan tersenyum tipis sebagai kata terimakasih.
“Jadi, lo yakin mau gabung sama kita Jon?”
“harus gimana lagi Fan”
“hahahaha, besok ada job. Lo istirahat aja dulu, gue nyusul anak-anak”
Masukin lagu buataan qaqaa doong kaaa :))))
BalasHapus