BIPOLAR PART 1

Cuaca pagi ini sedikit lembab, seperti  mampu menggambarkan perasaanku yang sedang sendu, menatap  hujan yang menyisakan embun di jendela kecil rumah ini dan membuatnya terlihat buram,  sama seperti masa depanku. Aku meraih jaketku dari gantungan kumuh lemari usangku dan melemparkan badan di kasur tipis ini. Ruangan 2 kali 1 meter ini telah menjadi tempat tinggalku selama tiga bulan. Jemariku memainkan ponsel  yang menerima pesan berbagai tawaran penyelundupan narkoba ke berbagai negara. Gajinya tak setimpal jika dibandingkan nyawa sebagai taruhan. Lagipula aku hidup sendiri, uang makan untuk sebulan masih cukup, aku tidak ingin mengambil resiko terlalu besar . Tadi pagi aku mendapat panggilan untuk mengedarkan sekantong  ganja ke kandang sel, seperti biasa sang penjaga sel akan selalu menanyakan identitasku, aneh. Pengedar gelap saja butuh identitas, dasar negara taat hukum, sudah tahu yang tersisa dari diriku hanya tinggal kartu pelajar waktu SMP. Kandang sel memang pekerjaan paling ringan, selalu ada tawaran setiap hari, polisi didalamnya butuh tenaga ekstra hingga menggunakannya setiap hari, kau jangan tertipu dengan tugas mereka menangkap bandar, merekalah yang membudidayakan bandar narkoba sesungguhnya.

Begitulah keseharianku setelah terusir dari rumah tanteku beberapa bulan lalu, sifat isengku yang sering menjelma menjadi dua kepribadian selalu saja dianggap membahayakan orang lain.

Kisah ini bermula saat Bapakku sang penguasaha sukses itu sedang berada di pucuknya, dia benar-benar menerapkan teori hukum alam ini, harta-tahta-wanita, selain ibu, dia juga punya beberapa wanita lain yang melayaninya hanya untuk mengincar hartanya sampai Ibuku harus bekerja sendiri untuk menghidupi anak-anaknya karena laki-laki kesayangannya itu bangkrut, terpaksa aku harus tinggal bersama keluarga besar nenek dan tanteku. Supaya sewaktu-waktu aku tidak membunuh Bapakku.

 Aku hobby sekali berbincang dengan diriku yang tidak diketahui orang lain. Pagi itu, saat tanteku sedang mandi dan asik bernyanyi didalamnya, aku sengaja mengambil gergaji besar yang diletakkan di ruang kerja Omku dan menggorok pintu kamar mandi sambil tertawa lepas bahagia, “hahahahahahhahahah lucu sekali dia takut dengan gergaji”

Setiap siang aku suka sekali tidur dikolong kasur kamarku, berbincang dengan temanku yang ada didalam diriku sendiri
“Sepertinya enak kalau mematahkan kaki keponkanmu, Jon” aku meliriknya tajam dan menampar pipi Joni

“gila kau, apa yang telah diperbuat keponakanku hingga kau setega itu, Jod”
“dia telah merebut perhatian nenekku hingga aku diabaikan, sepanjang hari. Perkataanku tidak digubris siapapun
dirumah ini” Jodi selalu merasa dirinya tidak dianggap

“Sudahlah Jodi, jangan mengganggu aku tidur “

Beberapa detik kemudian sebelum aku sampai di dunia mimpi, tiba-tiba pintu kamarku didobrak

“Tidak usah bersembunyi kau!! Aku melihatmu boncengan di Pasar dengan si Bandar Narkoba itu! Jangan membuat malu nama keluarga ini dasar Joni, kau anak  yang sudah tidak waras!”

“Om ini ngomong apa? Dari tadi aku tidur di bawah kolong ini, sejak tadi tidak kemana-mana, siapa pula bandar narkoba yang kau bicarakan itu”

“halah! Alasan terus! Sekali lagi aku melihat kau dengan dia! Angkat kaki dari rumah ini”

Aku terdiam, membisu. Menikmati hening setiap kali aku tidak bisa membantah tuduhan-tuduhan dari Om ku yang selalu menyebutku tidak waras karena sering melihatku berbicara sendiri.

‘’ Bunuh saja anaknya Jon” Jodi, teman baik dari sisi lain diriku mengatakannya

Tanpa berfikir, aku geram dan tahan untuk  berlari keluar  dan melihat keponakanku sedang asyik bermain sepeda di depan halaman rumah. Dengan langkahku yang tidak kalah cepat dengan ayunan sepedanya, aku menjatuhkan sepedanya, membantingnya hingga membuat ban dan rantai terpisah-pisah berserakan di halaman. Nando menangis kencang sekali kesakitan karena jatuh terbanting bersamaan sepedanya beberapa detik lalu, aku langsung menyeretnya dan membawanya ke dapur, belum saja aku tusuk dia dengan pisau ditanganku, nenek meraihnya cepat dan menggendongnya jauh dariku. Tangisan tante dan Nando bersamaan membuat kepalaku pusing, ditambah lagi bentakan Om dan Nenek yang semakin membuatku gerah.
 Mereka sudah sering membawaku ke Dokter, “Anak ini baik-baik saja, hanya mungkin banyak tekanan yang membuat emosinya tidak stabil”. Aku berjalan menuju kamar, kembali ke kolong tempat tidurku.
“kita usir saja dia, lagipula tetangga sudah banyak yang mengeluh karena anak mereka selalu saja diganggu oleh Joni” aku mendengar  samar-samar percakapan di ruang tamu dari kamarku, siap-siap memasang telinga terbaik dan membuka pintu kamar agar ada sedikit celah untuk melihat adegannya dengan jelas

“dia anak yang baik, hanya saja didalam dirinya seperti ada orang lain yang mendukung dia melakukan semua ini” kata nenekku, yang selalu saja membelaku, mataku memanas bersamaan eluh menetes dari sana

“sampai kapan Ibu selalu membelanya, anak tak tau diuntung! Ha?! Memang Ibu mau membiayai hidupnya, memberi dia makan, kembalikan saja pada orang tuanya ! “ sambil menggertak meja dengan keras dan menampar nenek sebelum ditahan oleh tanteku

Daripada membuat semua ini lebih runyam, aku memutuskan berdiri, membawa jaket, ponsel, dan sepasang sendal lalu beranjak pergi dari rumah ini. Ketika melewati mereka di ruang tamu, henyak, sunyi, terdengar nafas Om tua itu yang menahan emosinya, aku melihat nenek, lalu mengangguk dan pergi. Tidak ada yang menahan, mungkin justru lega dan puas karena aku tidak akan merepotkan mereka lagi.

Aku bukanlah pengedar narkoba seperti yang selalu dituduhkan kepadaku, kesukaanku saja masih mengunyah permen karet, tapi karena tidak ada tujuan lain untuk mengidupiku, akupun berinisiatif untuk mencari sang bandar narkoba yang selalu disebut-sebut Omku itu.

Jalanan menuju pasar ini lengang, hanya ada satu dua buah motor yang lewat, matahari terik membuat eluh menetes di dahiku. ‘’ pritttt, pritttt, yak kiri sedikit lagi, yak lanjut’’ teriak abang tukang parkir yang berada didepan Alfamidi.

“ kenalin saya Joni bang, ada kerjaan gak ?”




Cerita ini akan aku upload di wattpad kemungkinan, akan ada posternya juga! Terimakasi untuk selalu baca! ๐Ÿ˜Š๐Ÿ’™

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keluh Kesah Karyawan yang Merasa Otodidak Marketing B2B di Kantor

TRIP JOGJAKARTA DUA HARI

Hujan dan Mendung di Akhir Tahun ini