KELUHAN SEORANG EXTROVERT
Keluhan Seorang Extrovert-21.07.2017
Image by : Google
Begitu banyak
karakter yang sudah aku temukan selama ini, apalagi aku terjun ke dunia perkuliahan dan sebagai seorang yang
terbuka aku pun juga memiliki beberapa keluhan. Sekarang, aku baru memasuki
semester III, setahun lalu aku sudah mengikuti organisasi yang ada di kampus,
sebelumnya memang sejak SD aku sudah menyukai berorganisasi. Tentu saja aku
telah bertemu dengan banyak orang baru dan karakter baru juga. Begitu banyak
temanku yang mengatakan “aku pengen deh jadi kamu, bisa kenal banyak orang”.
Selain jadi mudah bergaul dan banyak mendapatkan sudut pandang yang berbeda,
akupun juga sering merasakan beberapa hal yang dirisaukan oleh orang-orang yang sulit bergaul. Pertama, aku
tuh orangnya suka banget menyapa siapapun waktu di jalan, tidak pandang bulu
apakah seumuran, senior, ataupun junior. Karena aku yang terlalu terbuka
ataupun komunikatif seperti orang-orang bilang, ada saja yang nyeletuk
“kok lu caper
sih?
“lu caper
tau.”
Mau tahu rahasia aku kenapa bisa
menyapa siapapun dan memulai percakapan dengan siapa aja? Dulu, waktu masih SD,
aku tinggal di Wonogiri, Jawa Tengah dan SDN Talesan II itu tempatku bersekolah,
dari rumah ke sekolahku kira-kira harus melewati sekitar 20 rumah ( di kampung,
rumah itu jaraknya tidak berdekatan) dan setiap
melewati rumah dari berangkat ataupun pulang sekolah aku harus menyapa
mereka dengan bahasa Jawa alus, bukan hanya harus, ini bahkan menjadi sebuah
kewajiban dan apakah ini bukan budaya?.
Buat aku gasalah kalau aku membawa budaya ini ke manapun aku tinggal, ternyata
tidak. Dulu, waktu aku masih SD semua temanku heran karena aku senyum ke siapa
saja saat mereka menatapku. Mungkin saja adaptasi dengan lingkungan itu benar
adanya, tutur sapa dengan siapapun yang kamu kenal itu, boleh adanya. Lalu
semenjak itu, aku hanya menyapa siapa saja yang terlihat senang saat aku sapa.
Mungkin saja benar kamu harus berbeda di
setiap bumi yang kamu pijak. Tapi bagiku, selama itu baik dan tidak mengganggu
orang lain dan sesuai pada tempat dan porsinya, kenapa harus takut? Bahwa
senyum dan salam adalah sedekah. Keluhan kedua, dengan memiliki banyak teman
aku bukanlah tipe orang yang hanya bisa ketawa-ketiwi, sedih atau gundah dengan
kelompok A atau hanya dengan kelompok B, aku bisa bercerita kisah
senang-sedihku dengan siapa saja yang aku percayai, banyak yang bilang
“itu
akan menjadi boomerang untuk diri kamu sendiri”
Aku tidak menyalahkan, namun
tidak juga membenarkan 100%. Bagiku, kalau kamu tahu kelemahanku dari ceritaku
dan suatu saat kamu ingin berbuat yang tidak baik karenanya, selama aku pun
juga tidak berbuat jahat dengan kamu atau siapapun? Kenapa harus takut. Karena
apa yang kita tanam itu yang akan kita petik, lalu kenapa takut diserang
kelemahan kita oleh orang lain? Karena dengan dikecewakan kita akan semakin
kuat, akan banyak membuka mata bahwa kelemahanmu kelak jadi kekuatan
terbesarmu.Dengan menjadi terbuka kamu juga akan semakin dikenal dan banyak
dikritik, sedikit saja ada yang aneh dari dalam diri kamu entah hanya sekedar
penampilan, kata-kata, sedikit noda di wajah kamu, alis kamu kurang bener,
bibirmu kemerahan, warna baunya ga cocok, karena kamu akan menjadi cahaya
disekitarmu. Keberadaanmu terlihat. Jikalau boleh memilih, aku ingin yang tidak
terlihat, nyaman dengan gayaku sendiri, menjadi aku tanpa harus memikirkan
idealis orang-orang disekitar kita yang mereka harapkan kepada kita. Tujuannya
memang baik, namun terkadang cara penyampaiannya tidak baik. Sampai terkadang
terlihat seperti mencela, bukan menasihati. Jadi, gak selamanya kok menjadi
seorang yang extrovert itu menyenangkan, bukannya lebih asik punya banyak waktu
sendiri dan berkarya, dibanding nongkrong rame-rame gakenal waktu dan
menghabiskan uang. Bukankah lebih asik menikmati dunia ini sendiri lalu menemukan banyak teman di jalan,
dibandingkan dengan ramai-ramai ke satu tujuan tapi satu-per-satu gugur di jalan.
Be yourself because someone else is
alraedy taken.

Komentar
Posting Komentar