Kemana ?




Aku selalu meruntuhkan niatku untuk meminta sebuah kepastian setelah tiga tahun kita menjalin hubungan. Kau selalu saja berhasil membuatku luluh dengan janjimu yang seakan nyata atau hanya sekedar angan yang semakin rapuh. Banyak hal yang membuatku terus mempertahankanmu, karena aku masih bangga, ketika  jadi tempatmu mengeluh.
 Ketika aku masih mampu menghangatkanmu ditengah dinginnya angin malam pinggir kota, atau saat menjadi pengusir lelah dan penat di sela-sela kesibukan kita. Bahkan saat kau duduk di sofa, tempat dimana kita bercerita sampai pagi pun tiba.  Aku hanya bertanya-tanya kau ada dimana saat aku bertanya “kapan datang untuk melamarku?”.  Mungkin aku saja yang sangat mengharapkan itu di tengah tidak siapnya dirimu, Andi. Kemana perginya kamu akhir-akhir ini, tolong, jadilah laki-laki cukup malam ini, untuk kita.
                Orang bilang bahwa cinta itu tidak perlu pengorbanan, karena ketika kau merasa berkorban, itu bukan lagi cinta namanya. Katanya pula cinta itu tak pernah salah, tapi sekarang aku merasa ini kaprah. Tapi, tidakkah cukup setiap minggu aku menemanimu berlarian di pinggir lapangan, mengejar satu makna kesehatan.
Tidakkah ingat? Kita pernah bernyanyi di kerumunan orang-orang yang menggandrungi musik yang sama. Aku melihatmu sangat bahagia, tertawa, hingga tiada lagi kau kenal apa itu air mata. Atau hanya aku yang merasakannya?
Saat kamu dan kakakku yang selalu menggodaku karena pakaianku yang tak senada, saat kamu dan ibuku yang tak mau megakui enaknya masakanku yang tanpa lada, atau saat kamu dan abahku menonton liga berdua dan membuat bising didengar tetangga, semua itu bagaikan hilang begitu saja untukmu. Semu.
Katamu, kita nanti akan pergi meniti setiap jengkal keindahan bumi. Katamu, kau akan memelukku saat pagiku buatkan kopi, kita akan dibawah hujan berduaan, dibawah pohon berlarian, memandangku tanpa henti saat aku menatap bulan, kita bercengkrama diantara bertenggernya burung-burung di dahan, bercanda bersama kucing-kucing kita yang senang tiduran. Lucu, itu semu.
                Kau ingat si Fadlan, ya, teman kakakku yang selalu saja datang kerumah. Dia selalu saja membual yang tak jarang membuat wajahku memerah. Tapi, ndi, aku tidak mau gegabah. Aku terus menunggu kabarmu tanpa kenal lelah. Kau tahu bahwa ini semua tidaklah mudah. Ndi, kembalilah. Bisakah kau jantan untuk sekali ini membuktikan keseriusanmu pada Abah?
                Apakah aku yang sangat memaksa, atau memang belum tiba saja saatnya. Seseorang yang setiap pagi aku sapa kini membuat lara. Kau dimana? Tenggelam bersama rembulan disana?. Sudahlah Ndi, mungkin bagimu penantianku ini tiada lagi berharga. Semua kisah kita tiada lagi guna. Ya, pergilah. Aku sudah mereda, tak akan ada lagi harap-harap dalam dada. Kau bukan lagi angin soreku saat memeluk senja. Bukan lagi gelombang yang tenang saat hilang arahnya nahkoda.
                Malam itu telephone berdering, kau tahu? Hampir mati aku tersandung dari tempat tidurku sendiri saat berlari ingin menggapai setitik harap mendengar suaramu lagi di telinga ini. Nyatanya, bukan suaramu yang muncul saat aku berusaha menahan isak dalam diri. Bukan nada yang aku rindukan sekian lama ini. itu sebuah lamaran, dari seorang yang tampan dan mapan yang sedang berada di negeri sana dan orang tuaku mengiyakan tanpa sanggahan. Fadlan.
                Malam ini aku memeluk lututku, erat. Cuaca seakan sangat bersahabat. Tiada rintik hujan sedikit saja menemaniku yang sedang penat. Tapi begini, sesuatu yang dipaksa itu tidak akan baik ujungnya. Percuma sajalah kalau hanya aku yang masih mengharapkanmu kembali, Ndi. Karena jika nanti saat bersamaku kau terpaksa, maka akan hampa. Layaknya jembatan, jika hanya satu sisi saja yang mempertahankan maka akan rubuh jua.
                Hari ini, setelah telephone dari Fadlan kala itu, dia mengucapkan satu kalimat yang biasa dalam akad. Orang tuaku selalu meyakinkanku tanpa sekat. Mereka menceramahiku sehari bisa 50 kali. Bahwa cinta bukan lagi satu satunya yang harus dipenuhi. Katanya.
                Aku didandani rapih, gaun yang kupakai ini menandakan aku tidak sendiri lagi. Aku tak bisa menahan kencangnya detak nadi, tak bisa kujelaskan inikah awal kebahagiaan atau kesedihan yang berkepanjangan. Terlalu banyak wajah  berdatangan untuk berjabat tangan dan mengucapkan kata – kata indah tak berkesudahan.
                Tetapi mengapa di hari bahagia itu pula kau datang, tentu saja tidak sendiri. Ada sesosok yang sedang berdiri mendampingimu, Ndi. Rasanya air mata ini tak tahu diri, membanjiri wajah berseri ku yang harusnya kujaga sampai malam nanti. Aku sangat ingin memaki diri sendiri, wanita itu sudah berbadan dua, entah sejak kapan? Pastinya kau telah membagi rasa pada dua orang wanita di waktu yang sama, tapi, bagaimana kenyataan ini harus kuterima, ternyata itu alasan kau tak pernah mau jumpa.

               
                 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keluh Kesah Karyawan yang Merasa Otodidak Marketing B2B di Kantor

TRIP JOGJAKARTA DUA HARI

Hujan dan Mendung di Akhir Tahun ini