Menua



source pict: pinterest


Menua,
Adalah masalah kita bersama.
Bisa jadi karena banyak harapan tak sampai,
Atau tujuan yang tak kunjung usai,
Bisa jadi, karena pahit asin manis dunia, belumla dirasa, sepenuhnya.
Atau angan-angan memilikinya, dia yang tak kasat mata dan tak tahu siapa atau ada dimana.
Lama-lama puisi ini seperti piramida,
Tidak sesuai pada aturannya,
Maka biarlah ia tidak teratur, seperti kehidupan di masa tua.


           Apa kabar Hari? Ada apa Hari ini? Daun yang menguning dipucuknya dan hijau tua dibelakangnya, Pagi ini menemani langit biru sehingga membuat jadi awalan Hari yang lebih berwarna. Kuputuskan untuk menyampaikan keluhan ini, ditemani teh hangat dan belum mandi.

           Beberapa Hari terakhir kuhabiskan untuk beristirahat di tempat tidur ternyaman di dunia, karena gratis dan tak terbatas, khawatir kalau ada kerusakan harus ganti rugi, oh kali ini tidak, ini kamarku. Tidak berada di gedung tinggi atau kamar mandi mewah, dia mewah dengan dua jendela dan tanaman hias berderet didepannya, rak- buku-buku lama tersimpan disana, sejarah perjuangan luar biasa (diri Saya ) Riska Rahma Dea.

        Ya, kekhawatiranku mengenai tidur yang berlebihan membuatku resah, produktivitas dan aktivitas menurun, energi ku seakan terkuras habis, tidak ada lagi Aku yang cukup tidur tiga sampai empat jam lalu segudang aktivitas bahkan sehari bisa ganti dua provinsi, tiga kota. Tapi bagaimana, mungkin inilah saatnya kita, rehat. Kufikir ini semacam rehat, tidak.

          Emosiku meluap lahap, ibarat api tak tau diri menelan rumah, hutan dan kambing-kambing tetangga. Sedikit saja salah kata, kau bisa kumakan sampai jantung, hati dan isi kepala. Jadi, sabar-sabar saja bila didekatku. Sengaja menghindar dari beberapa sentuhan dan pertemuan mata, karena aku takut hanya memperbanyak mudhorotnya saja.

         Toh, aku sekarang gampang lunglai, jadi justru akan merepotkan, dua tahun yang lalu mungkin aku marah bila disebut bipolar, bisa jadi sekarang aku akui. Semoga aku hanya tidak banyak menyakiti, jadi silahkan menjauh sampai aku merasa tidak ada lagi yang mengerti.

      Hidup di masa dua puluhan sedikit membuka mataku bahwa pengerucutan lingkungan dan teman itu benar adanya. Dia, yang kusangka baik, pergi dengan sendirinya, atau aku usir supaya tak buat banyak khawatir. Banyak sekali pisau karatan mengiris-iris kulit, seperti halnya masa kelam diangan-angan, meski terlintas sebentar, meski teriris pisau karatan sedikit, efeknya yang panjang dan tidak baik.

             Kebutuhan, dia lagi harus lebih dewasa kali ini, tidak bisa hanya asal mulut terbuka Es maka hadirlah Es, Burger maka tinggal order. Tidak. Finansial tidak sebercanda itu. Apalagi kalau belum bisa menghasilkan sendiri, haha. Bukan anak terakhir yang tinggal minta, Aku. Anak sulung yang biasanya harus dicontoh, dipanuti, ya, tidak semudah itu. Maka, sekadar mengingatkan, menahan adalah kunci, menahan adalah iman.

       Tiga ‘S’, Sakit hati, Stress, Seksi, menjadi hobby dan tuntutan. Ya, hobby sekali sakit hati dengan hal-hal sepele dan melakukan pembelaan “ kadar sakit hati orang kan beda-beda” lalu dijawab “ Mainnya kurang jauh lo, baper lo” lalu disanggah “ Sedikit-sedikit ngatain orang baper, membuat mental illness semakin meningkat”,

Kita tidak siap dikritik.
Tidak siap untuk mempersiapkan, yang lebih menyakitkan.
Emosian menjadi pelampiasan, Aku.
Lalu seksi menjadi tuntutan, berat badan sudah lima puluhan masih ngeluh kegendutan.
Biadab, kadang.  Orang-orang yang kurang bersyukur memang miskin semiskin miskinnya, Aku.

Menyebalkan jujur saja.

          Begitulah, menua bukanlah hal mudah, olahraga, makan sehat mahal harganya, sekarang sayuran mahal, menjadi vegetarian tidak murah dan susah istiqomah, olahraga rutin bayar dulu ke Gym baru akan rajin karena sayang sudah bayar mahal-mahal, lari di komplek dan sit-up, push-up dirumah kuranglah menggugah dengan alasan banyak godaan. Kurangi makan gorengan dan teh sisri atau teh sulastri, kadang mengganggu pencernaan, apalagi yang namanya Indomie.

Cobalah mulai sayang dengan diri sendiri kalau memang mau disayang oleh orang yang tepat, jadilah orang yang tepat untuk disayang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keluh Kesah Karyawan yang Merasa Otodidak Marketing B2B di Kantor

TRIP JOGJAKARTA DUA HARI

Hujan dan Mendung di Akhir Tahun ini