Sejenak Menjadi Warga Kukuk Sumpung

Tulisan ini Saya dedikasikan untuk BEM PNJ.

PNJ Mengajar 2019


         Badan Eksekutif Mahasiswa mempunyai salah satu program yang luar biasa, PNJ Mengajar namanya, kegiatan yang bisa dikatakan sebuah pengabdian nyata mahasiswa ke masyarakat Desa yang belum semaju kota. Kenapa bisa dikatakan seperti itu? Karena biasanya Desa yang akan dikunjungi adalah Desa yang akan dikembangkan mulai dari segi Ekonomi, Pendidikan, maupun Fasilitasnya. Sebuah Desa yang masih sulit untuk dijangkau dan belum terlalu tersentuh oleh Teknologi. Maka dari itu, saya dan salah teman saya memutuskan untuk ikut berpartisipasi hadir ke Desa tersebut, lokasinya ada di Desa Kukuk Sumpung, Gobang, Leuwiliang, Bogor.

Kami memutuskan untuk melakukan perjalanan di Pagi hari, sebelumnya saya ingin memberi informasi mengenai persyaratan bagi para tamu atau peserta yang akan berkunjung ke PNJ Mengajar ini, yaitu membawa beras, mie dan telor secukupnya. Setelah menempuh setengah perjalanan, pagi itu gerimis, kita mampir terlebih dahulu ke tukang bubur dan minum teh hangat lalu melanjutkan perjalanan. Ketika sampai di dekat Desa Gobang, kami berhenti lagi untuk ngopi di salah satu rumah warga yang memiliki bale di depan rumahnya, sembari menunggu teman saya rebahan sebentar, saya meminta Ibu sang pemilik rumah untuk mengizinkan saya memakai kamar mandinya. Menuju perjalanan ke kamar mandi, Ibu itu berpesan “ Teh, tapi kita masih nimba teh di sumur, nanti ada embernya, bisa ga teh ?” Tanya Ibu pemilik warung itu padaku didepan kamar mandinya,

 “Ohiya, bisa kok Bu, makasih ya bu” jawabku sambil masuk ke kamar mandi dan melihat keadaan sumur dan lantai yang sudah di semen, untuk menimba air dari sumurnya memang tidak sulit, kebetulan sumurnya tidak terlalu dalam.
Setelah merasa cukup beristirahat, kami melanjutkan lagi karena menurut Google Maps, jaraknya tidak terlalu jauh, akan tetapi Ibu warung mengatakan Kukuk Sumpung masih jauh, harus nanjak lebih lagi. Tidak selang berapa lama kami menemukan Kantor Desa Gobang, tepat seperti alamat yang dikirimkan oleh panitia, lalu kami memutuskan untuk bertanya ke Kepala Desa dimana letak Desa Kukuk Sumpung. Teman saya yang menghampiri Bapak-Bapak yang sedang berkumpul di ruang Kantor Kepala Desa tersebut,

“ Permisi Pak, Kukuk Sumpung kalau dari sini kemana ya Pak, acara PNJ Mengajar Pak ? tanyanya ke salah satu Bapak-Bapak yang keluar dari ruangan itu, dijawablah dengan suara yang berat dan lantang “ Oh acara mahasiswa ya? Lurus ini sedikit lagi terus belok kanan itu yang turunan ikutin jalan aja masih diatas Desanya.”


Setelah mengikuti alur yang dikatakan oleh Kepala Desa, baru beberapa meter kami melihat hamparan luas sawah dan sungai yang sangat asik jika kita olahraga arung jeram disana, jalanan setapak yang masih asli dari tanah kita lewati, lalu ada beberapa rumah penduduk yang mulai ada dan membuka usaha seperti telor gulung, es, seperti layaknya makanan Kota, lebih kedalam lagi, kami hanya melihat pepohonan dan pohon bambu, jalananya mulai sedikit terjal dan meliuk, ditambah lagi menanjak, gas yang ada pada motor sudah ditancapkan sampai pada batasnya, tapi tetap saja terkadang masih kesulitan saat ada belokan yang tajam, akan tetapi pemandangan dari samping kanan dan kiri kami sangatlah indah, terlihat seperti ada beberapa bukit dan sawah terhampar luas.

Sudah cukup jauh kami menanjak, keresahan mulai menghampiri, takut Desa Kukuk Sumpungnya ternyata sudah kita lewati atau justru baru akan sebentar lagi sampai, akhirnya kami memutuskan untuk bertanya pada seorang Ibu dan Anaknya yang ada di sebuah rumah yang lebih mirip seperti Pos, sedang duduk dan bercengkrama,
“ Permisi Bu, Dek, Desa Kukuk Sumpung dimana ya?” tanya kami yang tetap duduk di kendaraan roda dua kami “ Oooh, masih diujung, Desa terakhir pokoknya paling atas “ kami sedikit shock saat mendengar kata Desa Terakhir, karena sebelumnya kami tidak mempercayai kalimat Ibu Warung yang mengatakan Kukuk Sumpung masih jauh dan nanjak lagi, padahal di Google Maps tinggal sepuluh menit lagi sudah sampai, ternyata Desa ini belum terjangkau di Google Maps.

Sekitar Pukul 12.00 WIB dini hari, akhirnya kami sampai di Desa Kukuk Sumpung ini dengan dibantu pemuda dan salah seorang Warga yang  kebetulan ada disekitar membawa kami menuju jalanan masuk Desa Kukuk Sumpung. Saya, langsung menghampiri Aini, salah satu teman saya di Badan Eksekutif Mahasiswa yang kebetulan sebagai Ketua Departemen Kesejahteraan Mahasiswa dan PNJ Mengajar adalah salah satu Program dibaah Departemen yang diembannya. Aini terlihat sedang sibuk mempersiapkan minuman dan makan siang bersama beberapa panitia lainnya, terlihat ada sebuah Pos, yang terlihat dipakai untuk beristirahat setelah beraktifitas, menaruh barang-barang, atau sekedar bercengkrama, didepan Pos ada sebuah rumah warga yang didedikasikan untuk dapur alias tempat masak memasak para mahasiswa berhati mulia ini.

Kegiatan di siang hari saat itu adalah makan siang bersama para panitia di kontrakan alias ada dua rumah warga yang digunakan untuk menginap para panitia, satu untuk Wanita, lainnya untuk penginapan Pria dan mereka menyebutnya kontrakan. Kesan pertama memasuki penginapan Wanita adalah berantakan, begitu banyak almameter, baju, celana, selimut, handuk bergelantungan didalam dan diluar rumah, tapi dari sana Saya mencium kekeluargaan dan perjuangan. Makan siang pertama kita adalah nasi goreng, perihal siapa yang memasak? Tentunya semua panitia mendapat giliran piket untuk memasak, bersama mereka, keberadaan Saya disambut baik, begitupula teman Saya yang kebetulan menginap di kontrakan Laki-laki, dari ceritanya, dia juga disambut baik dan ramah.

Setelah makan siang, tidak ada kegiatan wajib yang diperuntukkan bagi tamu seperti kami, jadi, jika ada kegiatan mengajar di Sekolah, merenovasi kamar mandi atau gedung sekolah, kita boleh ikut serta dan berpartisipasi. Ya, memang begitu banyak kegiatan yang dilakukan, namanya juga mengabdi dan menurut kami ini sangat luar biasa, bisa menjadi salah satu wadah untuk mahasiswa yang kurang aktif dalam organisasi atau kurang tertarik dengan  Politik dan semacamnya, setidaknya mengabdi adalah salah satu cara mulia melampiaskan ke-apatis-an dalam diri. Menjelang sore, sekitar pukul empat dan lima sore kegiatan belajar mengajar dan renovasi dihentikan dan akan dilanjutkan esok hari, teman-teman sekontrakanku mulai berebut untuk siapa yang mandi terlebih dahulu, karena kendala di kontrakan kami, air dari sumur sangat sedikit dan cepat kering, maka dari itu wajar kalau beberapa dari mereka belum  mandi selama lima atau enam hari, pelariannya adalah MCK umum yang berada ditengah hutan namun memiliki mata air, MCK umum ini telah dibangun oleh perusahaan sosial yang membantu Desa Kukuk Sumpung beberapa tahun yang lalu. Karena pada hari itu sudah larut sore, jadi aku dan Aini hanya memakai satu gayung air untuk sikat gigi dan membersihkan diri sebelum tidur, kita berencana akan mandi dan mencuci baju pukul 04.00 Pagi, bersama dengan Dita, salah satu teman se-Departemen dengan Aini di BEM. Kami akhirnya tertidur setelah bercengkrama sebentar, ketika alarm berbunyi tepat pukul 04.00 Pagi, aku benar terbangun, kuraskaan dingin sedikit menyerang karena aku memang tidak menggunakan jaket atau selimut. Mandi dan mencuci pukul 04.00 Pagi pun hanya wacana, bahkan subuh saja kesiangan.

 Sekitar pukul 07.30 WIB setiap hari, ada anak kecil yang berasal dari warga sekitar, dengan malu-malu dan tanpa menawarkan dagangannya, hanya dengan datang ke depan kontrakan wanita maka teman-teman pun sendirinya akan meneriakkan “ Nai Uduukkkk buruan sebelum kehabisan “, tentu saja tanpa repot-repot Nasi Uduk dan gorengannya akan terjual habis, satu bungkus nasi harganya hanya Rp. 1500; saja, gorengannya hanya Rp. 500; dan ada juga ketan Rp. 1000; cukup dengan nasi uduk, gorengan dan sambel, sarapan kita kenyang, makmur. Sebelum sarapan, Saya dan Aini membeli Nasi Uduk terlebih dahulu, tapi tidak dengan Dita, nanti saja, katanya. Kami bertiga berangkat ke MCK Umum untuk mandi dan mencuci baju, kehadiran kita seperti sebuah hal yang tidak biasa, semua perempuan mulai dari anak-anak, remaja dan Ibu-Ibu melihat ke arah dan setiap pergerakan kita. Sungguh hal baru yang sangat menyenangkan melihat mata air yang tidak habis dan tidak kotor dibuat untub mandi, mencuci piring, baju secara bersamaan, akan tetapi salah satu diantara kita tidak ada yang membawa gayung, hanya Aini dan Dita membawa ember untuk mencuci baju. Saya mendekat ke salah satu gayung yang terlihat tidak terpakai dan bertanya ke anak kecil di sebelah Saya.






 “ Hai, ini gayungnya boleh Aku pinjem ?” dia terdiam, salah satu remaja Wanita dibelakangnya pun terdiam, suasana menjadi kikuk, aku mencairkan dengan sedikit tertawa dan menengok Dita juga Aini
“ Aduh, gangerti deh dia kayaknya sama maksud kita, ada yang bisa Bahasa Sunda gak ?” Dita dan Aini kompak menjawab tidak bisa. Akhirnya salah satu remaja dibelakang anak itu menyambut gayung dan memberikan kepadaku dengan berkata “ Ini Teh dipake aja “. Aku, Aini dan Dita tersenyum dan berterimakasih. Memutuskan untuk mandi secara bergantian, Saya, Aini lalu Dita, membutuhkan waktu kira-kira satu setengah jam, sampai-sampai warga mengantri menunggui kita, mereka tidak ada yang protes, hanya diam, melihat kearah kita, tidak ada obrolan ketika saling menunggu, tidak ada tegur sapa satu sama lain, mungkin budayanya atau mungkin malu karena ada kita ?

              Sepulangnya dari MCK Umum akhirnya kita bisa kembali ke kontrakan, teman-teman yang lain sudah bergegas ke Sekolah dan beberapa masak di dapur, yang lain membantu renovasi, sebelum menyusul ke Sekolah yang letaknya tidak jauh, hanya turun sedikit dari Desa Kukuk Sumpung dan Sekolah tersebut seperti berada diatas bukit, ketika memandang keluar kelas sepanjang mata yang bisa dilihat hanyalah pepohonan, masih asri dengan lapangan tanah merah yang luas.
Sebelum menyusul teman-teman yang lain, Aini dan Dita mengajak untuk beli seblak yang konon enak dan murah, Saya menghubungi teman Saya lewat Whatsapp yang kemungkinan terkirim pesannya bisa beberapa jam kemudian, akhirnya Saya memutuskan untuk menghampirinya ke Pos, barangkali dia ada disana, benar saja. Setelah makan seadanya, akhirnya lidah kami menyentuh rasa lezat seblak ala Desa Kukuk Sumpung.



               Hari itu, adalah hari terakhir Saya dan teman Saya berkunjung dan ikut berpartisipasi di acara PNJ Mengajar, karena keesokan harinya teman Saya harus kembali bekerja, maka kita pamit undur diri setelah Ba’da Dzuhur, sedih rasanya karena belum puas dengan kebersamaan yang sebentar, namun juga bahagia bisa menjadi bagian dari mereka.
Sepanjang perjalanan pulang kita saling bertukar cerita mengenai keadaan, orang-orang dan kebiasaan yang mereka lakukan di Desa Kukuk Sumpung, sesuai pengamatan kami, anak-anak disana tidak banyak bicara atau bercanda, kebanyakan dari mereka atau bahkan hampir seluruhnya melakukan kontak fisik seperti saling dorong, peluk, pukul, mungkin itu adalah salah satu bentuk komunikasi atau pendekatan. Begitupula dengan warga sekitar, Saya sempat mengajak berbincang Ibu yang memiliki rumah untuk dikontrakkan kaum Wanita, beliau memang sungkan dan malu-malu atau pelan saat berbicara, teman Saya juga sempat berbicara dengan salah satu Bapak-Bapak yang ada disana, dia juga memiliki kesan bahwa Bapak tersebut seperti hanya menjawab pertanyaan saja, atau tidak biasa mengobrol.

Satu hal yang belum tertulis juga, disana tidak ada azdan, tidak boleh ada pengeras suara, hanya ada bedug sekali menandakan waktu solat, masjid hanya khusus untuk para lelaki, wanita beribadah dirumah. Benar-benar berada di Desa yang terpencil, penghasilan yang dihasilkan warga sekitarpun hanya dari buruh tani di sawah lahan orang lain, sehari hanya Rp.25.000 saja, tanaman di daerah Desa ini juga suka dicuri monyet dan babi hutan.

Salah satu hal yang menjadi perhatian kami adalah anak-anak perempuan yang sedang dalam masa peremajaan atau puber, sudah mengenal make-up dan fashion. Contohnya saja anak kelas enam Sekolah Dasar yang menjadi murid-murid telah menggunakan dan mempunyai alat make -up melebihi yang Saya punya.
Amat sangat disayangkan apabila kekurangan mereka hanya diisi dengan modernisasi yang justru menghambat masa depan, boleh jadi mereka seharusnya membaca lebih banyak buku atau kegiatan positif lainnya yang mampu mengangkat perekonomian keluarga dan bangsa.
Terlepas dari itu semua, dimulai dari diri kita, menggerakkan hal-hal yang bisa membantu sesama.
x



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keluh Kesah Karyawan yang Merasa Otodidak Marketing B2B di Kantor

TRIP JOGJAKARTA DUA HARI

Hujan dan Mendung di Akhir Tahun ini