Jawara



 Teruntuk dia yang sederhana dan selalu memupuk asa. Dipenuhi pikiran dan gagasan yang selalu mengesankan, pertemuan pertama kita bagaimana bisa disebut kencan. Pergi ke salah satu tempat kesenian tak bertuan di tengah megahnya dunia air dan permainan. Beberapa jam kemudian kuditinggalkan karena dirinya ada urusan./

Seperti jengkelnya mengantri saat memesan makanan, begitu pula yang kurasakan saat menanti berganti hari untuk bertemu kembali. Ketika saatnya datang, aku yang begitu kebingungan mencerna kehidupannya yang berbanding terbalik denganku, teman-teman nya berusia jauh diatasku. Tapi lihat, justru aku luluh dan semakin membuatmu lupa kita tak pernah tegur sapa sebelumnnya./

Entah berapa lama kemudian, kita justru semakin nyaman untuk bercengkrama dan lebih dalam memperkenalkan. Tak  kuingat kapan terakhir tidak percaya diri kecuali berada dirumahmu pertama kali./




Setahun berlalu, begitu cepat sampai tak terasa kita sudah berubah banyak. Melampaui yang tak pernah terlintas dalam fikir dan hati diri ini, tapi dia mengatakan sudah pasti tujuan dan pilihannya. Bak sang jawara menerima lemah dan rapuhku dengan sabar yang amat sangat. Menerima marah dan egoku yang selalu berhasil dipadamkan. Dengan cacat dan lukaku yang dirawat./

Kuakui untuk berterimakasih padanya karena tidak menolak untuk aku temukan, untuk segala hari yang tak pernah terencana dan menjadi sebuah kejadian besar tak terlupakan, segala angan yang tersusun rapih dibawah teduhnya awan atau bahkan kejamnya hujan, terkadang./

Disana mungkin aku dan dia, si Jawara sama – sama menggantungkan harapan, mungkin untuk sekedar mendebatkan nasib bangsa bersama dan kita tak bisa apa-apa, atau bergerak mencipta abdi untuk semua yang satu misi. Menceritakan kepada para hebat keturunan-keturunan kami untuk tidak mengulangi kegagalan yang pernah manusia di bumi ini alami—Oh, atau justru gantungan harapan itu hanya sekedar dia bisa merasakan telur setengah matang dariku setiap pagi dengan tambahan tomat merah hati, membacakan para hebat yang mirip kami setiap malam dengan cerita Majapahit-Sriwijaya- Kadiri. Atau sesederhana mencicipi fajar dan senja setiap hari di seluruh belahan bumi./
Semoga semesta mengamini.

Semoga kelak ketika banyak porak poranda negeri ini, krisis hati nurani terjadi, bencana dan musibah melanda, janji-janji bertebaran tanpa  pembuktian, kata-kata tak dapat dipercaya, uang menjadi tuhan yang paling diagungkan, kekeringan pemberontakan karena kelompok kebenaran ditahan dan diasingkan, dia, sang Jawara dan sanak saudara kita bisa tetap bersamaku, sekedar menebarkan puisi-puisi  kehausan yang rindu kedamaian./


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keluh Kesah Karyawan yang Merasa Otodidak Marketing B2B di Kantor

TRIP JOGJAKARTA DUA HARI

Hujan dan Mendung di Akhir Tahun ini