Sesuai Porsi






Setiap orang memiliki masanya masing-masing. Terkadang didalam masa yang kita nantikan dan impikan, begitu banyak harus menemu ujian, dalam bentuk kesabaran maupun kesenangan. Kemudian benar, akan kau temukan sesuatu di saat penantian mu ke masa itu, dalam kelelahan mengejar atau berlari, kau perlu titik henti.

Benar.
Henti.
Mengapa? Karena disaat itu, kau akan memikirkan banyak hal yang tidak terfikirkan kalau sedang dirundung terlalu banyak kesibukan. Ditengah henti akan begitu banyak hal yang kau sadari. Mulai dari cerita-cerita yang pernah kau dengar dari teman lama. Runtutan kejadian di hidupmu yang tak kau sangka-sangka atau menemui banyak syukur karena kau telah meninggalkan dirimu yang lama, bisa jadi justru sebaliknya, kau menyesali dan merindukan dirimu yang sudah bukan dirimu yang kau kenal dulu.

Aku.
Sedang merasakannya.

Setelah tak pernah henti diserbu masalah organisasi dan juga kehidupan yang penuh drama sama halnya seperti yang kau temui, akhirnya Tuhan memberiku ruang untuk sejenak memanjakan diri. Aku namainya henti. Lalu, terkadang menyadari  inilah kenikmatan, untuk membuktikan bahwa hidup bukan hanya tentang mencari kesibukan. Terkadang butuh waktu untuk memikirkan :

Tujuan.
Kedepan.
Atau,
Intropeksi
Dibelakang.

Menerima sedih, kecewa, marah dengan diri sendiri. Terakumulasi dan menjadi frustasi. Merasa kehidupan sudah akan berakhir, segera. Padahal, masih banyak hal yang bisa di syukuri. Kau tahu? Ketika kita mengeluh mengapa baju-baju yang kita miliki tidak sebagus mereka yang mampu memberi budget melebihi bayaran kosan setiap bulan hanya untuk penampilan, disana ada banyak anak-anak petani, pemulung, pengemis atau banyak pe- yang lainnya sedang memikirkan akan bisa makan atau tidak di setiap hari, akan mengkhawatirkan hujan atau tidak karena tempat tinggalnya akan basah, bajunya hanya satu, jangankan selimut, kasurpun dari kardus.

Atau saat kita iri melihat teman-teman seumuran yang telah berhasil kerja di gedung tinggi, makan ditempat fancy, punya alat elektronik dengan brand terkenal luar negeri, disaat itulah kita lupa syukur. Kita lupa cerita-cerita teman lama.

Kita lupa, ketika kita merasa cukup itu lebih dari cukup #nkcthi

Begini, kata salah satu guru, “Janganlah menginginkan kaya melebihi kebutuhan kita”
Lalu, ketika aku merasa seperti tidak ada guna, ada saja cara Tuhan mengingatkan.

“ Nak, si Dina yang diberi gelar manager Roti Bakar itu punya adik yang harus dibiayai kehidupan dan sekolahnya karena Bapaknya sudah meninggal, Ibunya tidak bisa bekerja, keluarga besar lainnya belum bisa  membantu “

“ Nak, jikalau kau iri melihat si Mona mendapat rezeki lebih darimu, ingatlah, dia telah merusak laptop temannya seminggu yang lalu, itu rezeki temannya yang dititipkan lewat dia “

“ Nak, lihatlah orang yang paling kaya itu justru yang tidak punya apa-apa dan tidak mengharapkan apa-apa “

“Nak, kalau si Robby harus membantu membeli obat untuk kesembuhan Bapaknya hampir satu juta setiap hari “

Nak, semua sudah sesuai porsi.

Jadi, apalagi ya yang harus kita khawatirkan? Seharusnya ya, apa yang sudah kita berikan terhadap sesama? Terhadap hidup orang lain? Sekiranya sudah cukup berusaha, jangan khawatir.

Sedang dipersiapkan.
Sedang dibungkus rapih, supaya tidak cacat.
Sedang on the way di perjalanan.
Kelak dia datang, yang dinanti.

Np : Tulisan ini nasihat untuk diri sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keluh Kesah Karyawan yang Merasa Otodidak Marketing B2B di Kantor

TRIP JOGJAKARTA DUA HARI

Hujan dan Mendung di Akhir Tahun ini