L a y a k n y a B u a y a
Mengiyakan apa yang harusnya tidak kau setujui adalah
pendidikan terberat yang harus kau emban.
Menganggukkan kepala pada apa saja yang tidak bisa kau
terima itu namanya mengikhlaskan.
Memaklumi segala perilaku dari beberapa orang yang entah
mengapa caranya selalu saja menyakitkan adalah satu-satunya pengalaman yang kemungkinan
kecil adanya sebuah kelulusan.
Tertawa dibalik kesedihan itu pelajaran utama yang semua
orang punya. Kau, mungkin saja merasa jadi aku. Atau merasa jadi mereka, yang
suka bermain-main dengan betapa merasa besar dan paling benar dirinya. Atau
kita pernah menjelma menjadi keduanya.
Muka dua, berbuaya.
Menjadi buaya bukanlah keahlian yang bisa ditaklukan siapa
saja, apalagi mereka yang berhati murni, bersudut pandang satu, bermulut
seribu, mengedepankan kepentingan orang lain terlebih dahulu, memberi makan ego
nomor satu, itu aku, dulu. Maka, jadilah buaya, agar tidak merasa yang paling
menderita, supaya tak merasa menjadi korban satu-satunya.
Meraung, awalnya.
Memang.
Semua hal yang baru
selalu saja menyulitkan.
Dipaksa untuk setuju, demi kebaikan bersama katanya. Dipaksa
untuk menerima, karena memang yang lebih tua lebih mengerti dalilnya. Yasudah,
kita pasrah pada akhirnya.
Tapi ‘pasrah’ adalah salah satu cara terbaik untuk menempuh
satu tujuan yang sama, karena sesuai pengalamanku ‘memberontak’ justru meruntuhkan
satu persatu, menuju jalan kehilangan berujung ditempat yang namanya kehancuran.
Memiliki harga diri
tetap perlu, tapi menolak sebuah pernyataan, bukan dengan mengendapkan diri entah dimana,
sampai tak terlihat batang hidungnya.
Mereka, yang memaksakan kehendaknya tidak akan pernah
mencari, merangkul, menarik keberadaan kita muncul kembali, jika tak mampu berbuaya, lenyap sudah nama dan
badan kita. kalau belum mampu menyetujui kemauan yang mereka inginkan
berlandaskan kebaikan. Nyatanya, kita sama – sama belum mampu menerima diri
sendiri, memberi makan ego sepertinya sebuah hobi yang memiliki nilai sangat
tinggi. Mereka disini, bisa kau artikan siapa saja, temanmu, keluargamu atau
bahkan orang –orang terdekatmu, karena bisa siapa saja melakukannya, atau
bahkan diri kita sendiri.
Berbahagialah bagi siapa saja yang benar-telah-menemukan
sosok diri sendiri.
Dimana tidak ada ketakutan luar biasa yang terngiang
ditelinga mengenai bobroknya asumsi alias pendapat pribadi dari yang pandai
menilai saudara sendiri, memaki. Bagi siapa saja yang telah lihai menerima
amarah, meredam gundah-gelisah-tak tau arah, membentuk sebuah jelmaan
ketentraman yang terpancar disetiap wajah dan jiwa.
Berbahagialah walau
itu belum aku.
Mengoceh, menjadi cara utama dan paling kekanakkan dalam meladeni amarah.
Kutinggalkan perlahan, sehingga Diam menjadi penggantinya. Lalu senyum dan tawa
menjadi penawarnya, tangis dan kecewa bersamaan tak terlihat didalamnya, berbuaya
namanya.

Sedih ya
BalasHapus